oleh

Petisi Referendum Kemerdekaan Papua Yang Ditandatangi 1.8 Juta Orang, Bikin Indonesia Gigit Jari?

Perjuangan para separatis pulau Papua merdeka ternyata tidak berhenti sampai disini saja, dari tahun 60-a hingga sekarang sudah berbagai aksi yang mereka lakukan agar tanah leluhur mereka berdaulat.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh salah satu kelompok separatis the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) yang baru-baru ini mengklaim telah menyerahkan petisi berisi 1,8 juta tanda tangan orang Papua Barat kepada Ketua Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Michelle Bachelet.

Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi saya dan juga rakyat saya. aku telah menyerahkan apa yang aku anggap sebagai tulang rangka rakyat pulau Papua Barat, karena telah banyak orang yang mati terbunuh,” ucap Pemimpin ULMWP, Benny Wenda, di Genewa, Swiss, seperti dikutip Reuterspada Senin (28/1).

Lebih lanjut, untuk menguatkan argumennya, Benny juga menklaim kalau di bawah rezim sekarang, warga pulau Papua seakan diisolasi, tidak memiliki kebebasan berpendapat, berekspresi, dan berkumpul.

Baca juga artikel lainnya : Film Horor Terbaik 2019 Yang Paling Di Nantikan Sejak Awal Tahun

Kemerdekaan pulau Papua

Benny menganggap, satu-satunya cara untuk merdeka adalah dengan petisi ini yang diklaim telah ditandatangi oleh hampir tiga perempat orang dari all out warga pulau Papua sebanyak 2,5 juta.

(Petisi) ini memiliki berat 40 kilogram, seperti buku terbesar di seluruh dunia,” ujar Benny.

Selama bertemu dengan Bachelet, WNI yang telah kabur ke Inggris itu mengatakan kalau dirinya dan Bachelet sempat berbicara soal situasi di wilayah Nduga, ketika 11 orang pekerja trans Papua tewas saat melarikan diri dari kelompok separatis OPM.

Sementara itu, dilain pihak, juru bicara komando militer di Provinsi Papua, Mohammad Aidi, membantah apa yang telah dituduhkan oleh Benny, ia bahkan menilai pernyataan Benny tidak berdasar dan minim bukti.

Dia (Benny) tidak dapat menunjukkan sebuah bukti dari apa yang ia telah tuduhkan terhadap pemerintah Indonesia dan pihak militer. Justru, Gerakan Pembebasan Papua (OPM)  sendiri lah yang telah membunuh para rakyat-rakyat sipil tidak bersalah,” ucap Aidi.

Semenjak belasan pekerja Trans Papua dari PT Istaka Karya tewas, kini militer TNI terus mengerahkan operasi penangkapan para anggota KKB.

Namun, Gubernur Papua, Lukas Enembe, justru meminta pemerintah menarik mundur pasukannya karena ditakutkan operasi tersebut dapat membuat warga setempat injury. Meski begitu, pihak militer menolak dan terus menggencarkan perburuan ke wilayah-wilayah pedalaman di kabupaten dan hutan-hutan dekat perbatasan dengan pulau Papua Nugini.

Semoga suasana memanas yang ada di Papua segera tenetralisir, dan semoga pihak PBB mau melihat dengan bijak dan tanpa condong pihak tertentu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *